May 25, 2024

Pulau Awaji telah lama dianggap sebagai “Pulau Makanan” untuk Jepang (melalui The Setouchi Cookbook). Pada abad kedelapan, hasil pertanian mereka diberikan kepada Kaisar dan keluarga kerajaan mereka, dan bahkan air minum dibawa langsung dari mata air Awaji. Namun, bawang kuning tidak diperkenalkan ke tanah subur Awaji sampai tahun 1880-an. Inovasi ini bertepatan dengan masuknya masakan Barat ke dalam masakan Jepang yang sering menggunakan bawang kuning sebagai bahan resepnya.

Para petani menemukan bahwa bawang bombay tumbuh subur di tanah Awaji yang berdrainase baik dan kaya mineral, produk sampingan dari air laut yang dibawa oleh Laut Harimanada di sekitarnya, Teluk Osaka, dan Selat Kii. Salah satu efek samping ajaib dari tanah yang diperkaya air laut ini? Kunang-kunang datang berbondong-bondong ke ladang bawang di musim panas, tertarik pada mineral.

Seiring berlalunya waktu, para petani belajar bagaimana membuat bawang Awaji menjadi tanaman sepanjang tahun dengan memperkenalkan bawang “baru”, alias bawang muda yang dipanen pada musim semi, bersamaan dengan bawang panen tradisional musim gugur. Jepang menggunakan bawang Awaji sebagai bahan berharga yang mirip dengan daging sapi Kobe di dekatnya, memasukkan allium manis ke dalam acar air laut, tumisan, dan makanan kukus.